Showing posts with label Artikel Fisika. Show all posts
Showing posts with label Artikel Fisika. Show all posts

Wednesday

THERMODINAMIKA berasal dari kata thermos yaitu 'panas' dan dynamic  yang artinya 'perubahan' adalah fisika energi, panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Termodinamika berhubungan dekat dengan mekanika statistik di mana banyak hubungan termodinamika berasal.Pada sistem di mana terjadi proses perubahan wujud atau pertukaran energi, termodinamika klasik tidak berhubungan dengan kinetika reaksi (kecepatan suatu proses reaksi berlangsung). Karena alasan ini, penggunaan istilah "termodinamika" biasanya merujuk pada termodinamika setimbang. Dengan hubungan ini, konsep utama dalam termodinamika adalah proses kuasistatik, yang diidealkan, proses "super pelan". Proses termodinamika bergantung-waktu dipelajari dalam termodinamika tak-setimbang.Karena termodinamika tidak berhubungan dengan konsep waktu, telah diusulkan bahwa termodinamika setimbang seharusnyadinamakan termostatik.

A.  Usaha dan Proses dalam Termodinamika

Termodinamika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang hubungan antara panas (kalor) dan usaha yang dilakukan oleh kalor tersebut. Dalam melakukan pengamatan mengenai aliran energi antara panas dan usaha ini dikenal dua istilah, yaitu sistem dan lingkungan.

Apakah yang dimaksud sistem dan lingkungan dalam termodinamika? Untuk memahami penggunaan kedua istilah tersebut dalam termodinamika, perhatikan Gambar berikut :
Bola besi dan air merupakan suatu sistem yang akan diamati. Adapun, udara luar merupakan lingkungannya.
Misalkan, Anda mengamati aliran kalor antara bola besi panas dan air dingin. Ketika bola besi tersebut dimasukkan ke dalam air. Bola besi dan air disebut sistem karena kedua benda tersebut menjadi objek pengamatan dan perhatian Anda. Adapun, wadah air dan udara luar disebut lingkungan karena berada di luar sistem, tetapi dapat memengaruhi sistem tersebut. Dalam pembahasan termodinamika, besaran yang digunakan adalah besaran makroskopis suatu sistem, yaitu tekanan, suhu, volume, entropi, kalor, usaha, dan energi dalam.
Usaha yang dilakukan oleh sistem (gas) terhadap lingkungannya bergantung pada proses -proses dalam termodinamika, di antaranya proses isobarik, isokhorik, isotermal, dan adiabatik.

1. Usaha Sistem terhadap Lingkungannya

Bagaimanakah cara menghitung usaha pada gas? Amati  suatu gas yang berada dalam tabung dengan penutup berbentuk piston yang dapat bergerak bebas, seperti terlihat pada gambar
Ketika gas ideal di dalam tabung dipanaskan,gas tersebut memuai sehingga piston berpindah sejauh Δs.
Ketika gas tersebut dipanaskan, piston akan berpindah sejauh Δs karena gas di dalam tabung memuai dari volume awal V1 menjadi volume akhir V2. Gaya yang bekerja pada piston adalah F = pA. Jika luas penampang piston (A) dan tekanan gas dalam tabung (P) berada dalam keadaan konstan, usaha yang dilakukan oleh gas dinyatakan dengan persamaan


W = pA Δs

Oleh karena A Δs = ΔV, persamaan usaha yang dilakukan gas dapat ditulis menjadi :


W = p ΔV    

            atau


W = p(V2 – V1)
                       
Keterangan :
p = tekanan gas (N/m2),
ΔV = perubahan volume (m3), dan
W = usaha yang dilakukan gas (joule).

Nilai W dapat berharga positif atau negatif bergantung pada ketentuan berikut.

a.       Jika gas memuai sehingga perubahan volumenya berharga positif, gas (sistem) tersebut dikatakan melakukan usaha yang menyebabkan volumenya bertambah. Dengan demikian, usaha W sistem berharga positif.

b.      Jika gas dimampatkan atau ditekan sehingga perubahan volumenya berharga negatif, pada gas (sistem) diberikan usaha yang menyebabkan volume sistem berkurang. Dengan demikian, usaha W pada tersebut sistem ini bernilai negatif.



2. Proses dalam Termodinamika


2.1  Usaha Luar
Usaha luar dilakukan oleh sistem, jika kalor ditambahkan (dipanaskan) atau kalor dikurangi (didinginkan) terhadap sistem. Jika kalor diterapkan kepada gas yang menyebabkan perubahan volume gas, usaha luar akan dilakukan oleh gas tersebut. Usaha yang dilakukan oleh gas ketika volume berubah dari volume awal V1 menjadi volume akhir V2 pada tekanan p konstan dinyatakan sebagai hasil kali tekanan dengan perubahan volumenya.

W = pV= p(V2V1)

Tekanan dan volume dapat diplot dalam grafik pV. jika perubahan tekanan dan volume gas dinyatakan dalam bentuk grafik pV, usaha yang dilakukan gas merupakan luas daerah di bawah grafik pV. hal ini sesuai dengan operasi integral yang ekuivalen dengan luas daerah di bawah grafik.
Gas dikatakan melakukan usaha apabila volume gas bertambah besar (atau mengembang) dan V2>V1. sebaliknya, gas dikatakan menerima usaha (atau usaha dilakukan terhadap gas) apabila volume gas mengecil atau V2<V1 dan usaha gas bernilai negatif.

2.2  Energi Dalam
Suatu gas yang berada dalam suhu tertentu dikatakan memiliki energi dalam. Energi dalam gas berkaitan dengan suhu gas tersebut dan merupakan sifat mikroskopik gas tersebut. Meskipun gas tidak melakukan atau menerima usaha, gas tersebut dapat memiliki energi yang tidak tampak tetapi terkandung dalam gas tersebut yang hanya dapat ditinjau secara mikroskopik.
Berdasarkan teori kinetik gas, gas terdiri atas partikel-partikel yang berada dalam keadaan gerak yang acak. Gerakan partikel ini disebabkan energi kinetik rata-rata dari seluruh partikel yang bergerak. Energi kinetik ini berkaitan dengan suhu mutlak gas. Jadi, energi dalam dapat ditinjau sebagai jumlah keseluruhan energi kinetik dan potensial yang terkandung dan dimiliki oleh partikel-partikel di dalam gas tersebut dalam skala mikroskopik. Dan, energi dalam gas sebanding dengan suhu mutlak gas.
Dimana ∆U adalah perubahan energi dalam gas, n adalah jumlah mol gas, R adalah konstanta umum gas (R = 8,31 J mol−1 K−1, dan ∆T adalah perubahan suhu gas (dalam kelvin).
Terdapat empat proses dalam gas pada bahasan termodinamika, yaitu proses Isotermal, Isobarik, Isokhorik dan Adiabatik. Usaha yang terdapat pada gas yang mengalami proses-proses termodinamika tersebut akan diuraikan sebagai berikut.


a.      Proses Isotermik
Suatu sistem dapat mengalami proses termodinamika dimana terjadi perubahan-perubahan di dalam sistem tersebut. Jika proses yang terjadi berlangsung dalam suhu konstan, proses ini dinamakan proses isotermik. Karena berlangsung dalam suhu konstan, tidak terjadi perubahan energi dalam (∆U = 0) dan berdasarkan hukum I termodinamika kalor yang diberikan sama dengan usaha yang dilakukan sistem (Q = W).

b.      Proses Isokhorik
Jika gas melakukan proses termodinamika dalam volume yang konstan, gas dikatakan melakukan proses isokhorik. Karena gas berada dalam volume konstan (∆V = 0), gas tidak melakukan usaha (W = 0) dan kalor yang diberikan sama dengan perubahan energi dalamnya. Kalor di sini dapat dinyatakan sebagai kalor gas pada volume konstan QV.
QV = ∆U

c.       Proses Isobarik
Jika gas melakukan proses termodinamika dengan menjaga tekanan tetap konstan, gas dikatakan melakukan proses isobarik. Karena gas berada dalam tekanan konstan, gas melakukan usaha (W = pV). Kalor di sini dapat dinyatakan sebagai kalor gas pada tekanan konstan Qp.  Sebelumnya telah dituliskan bahwa perubahan energi dalam sama dengan kalor yang diserap gas pada volume konstan
QV =∆U
Dari sini usaha gas dapat dinyatakan sebagai
W = QpQV
Jadi, usaha yang dilakukan oleh gas (W) dapat dinyatakan sebagai selisih energi (kalor) yang diserap gas pada tekanan konstan (Qp) dengan energi (kalor) yang diserap gas pada volume konstan (QV).

d.      Proses Adiabatik
Dalam proses adiabatik tidak ada kalor yang masuk (diserap) ataupun keluar (dilepaskan) oleh sistem (Q = 0). Dengan demikian, usaha yang dilakukan gas sama dengan perubahan energi dalamnya (W = ∆U).
Jika suatu sistem berisi gas yang mula-mula mempunyai tekanan dan volume masing-masing p1 dan V1 mengalami proses adiabatik sehingga tekanan dan volume gas berubah menjadi p2 dan V2, usaha yang dilakukan gas dapat dinyatakan sebagai
Dimana γ adalah konstanta yang diperoleh perbandingan kapasitas kalor molar gas pada tekanan dan volume konstan dan mempunyai nilai yang lebih besar dari 1 (γ > 1).
Proses adiabatik dapat digambarkan dalam grafik pV dengan bentuk kurva yang mirip dengan grafik pV pada proses isotermik namun dengan kelengkungan yang lebih curam.


3. Hukum Termodinamika 1

Suhu gas berhubungan dengan energi kinetik yang dimiliki oleh gas tersebut. Perubahan energi dalam dapat terjadi jika terjadi perubahan suhu (energi dalam akan meningkat jika suhu gas (sistem) meningkat atau pada gas diberikan kalor). Apakah perubahan energi dalam dapat terjadi pada gas yang diberi atau melakukan usaha mekanik?

Hubungan antara kalor yang diterima atau dilepaskan suatu sistem, usaha yang dilakukan pada sistem, serta perubahan energi dalam sistem yang ditimbulkan oleh kalor dan usaha tersebut dijelaskan dalam Hukum Pertama Termodinamika.

Hukum Pertama Termodinamika adalah perluasan bentuk dari Hukum Kekekalan Energi dalam mekanika. Hukum ini menyatakan bahwa: "Jumlah kalor pada suatu sistem sama dengan perubahan energi dalam sistem tersebut ditambah usaha yang dilakukan oleh sistem."
Dengan demikian, meskipun energi kalor sistem telah berubah menjadi energi mekanik (usaha) dan energi dalam, jumlah seluruh energi tersebut selalu tetap. Secara matematis, Hukum Pertama Termodinamika dituliskan sebagai berikut.


Q = ΔU + W
         
dengan: 

Q = kalor yang diterima atau dilepaskan oleh sistem,
ΔU = U2 — U1 = perubahan energi dalam sistem, dan
W = usaha yang dilakukan sistem.

Perjanjian tanda yang berlaku untuk Persamaan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Jika sistem melakukan kerja maka nilai W berharga positif.
2. Jika sistem menerima kerja maka nilai W berharga negatif
3. Jika sistem melepas kalor maka nilai Q berharga negatif
4. Jika sistem menerima kalor maka nilai Q berharga positif








Tugas Mata Kuliah Thermodinamika, Ir. Selastia Yuliati, M.Si.
Posted by Unknown

Tuesday

  
PENGUKURAN TEMPERATUR 

KARAKTERISTIK ANEKA TERMOMETER 

(TM 1)



1.     TUJUAN PERCOBAAN

·         Mengetahui dan mempelajari karakteristik thermometer tekanan uap
·         Membandingkan respon thermometer uap dan  thermometer merkuri.


2.     DASAR TEORI

Tempratur adalah derajat tingkat suatu panas benda terhadap benda lain atau lingkungannya. Tempratur diukur dengan alat ukur yang disebut dengan thermometer, salah satunya adalah thermometer dengan prinsip mekanik, yaitu thermometer bimetal. Thermometer bimetal, sesuai dengan namanya terdiri dari dua lempang logam yang berbeda sifat muai panasnya yang dililit berbentuk gulungan melingkar. Apabila satu ujungnya diberi panas maka gulungan tersebut cenderung membuka gulungannya, sedangkan apabila diberi dinginkan bersifat sebaliknya. Karakteristik gulungan tersebut kemudian dihubungkan dengan  pointer skala yang dapat dibaca dengan kalibrasi.
Thermometer lainnya adalah thermometer tekanan uap yang terdiri dari sebuah tabung logam yang dihubungkan dengan tekanan Bourdon yang dikalibrasi dengan tempratur. Fluida yang berada didalam tabung logam adalah fluida yang mudah menguap, dan terisi sebagian dalam tabung. Pada saat tabung logam kontak dengan fluida luar yang ingin diukur tempraturnya akan terjadi perpindahan panas yang akan memanaskan fluida didalam tabung sehingga menghasilkan uap. Uap ini akan menghasilkan tekanan yang mengisi pipa Bourdon pada bagian pengukur tekanan diatas.  Karena tekanan telah dikalibrasi dengan tempratur, pembacaan yang terbaca adalah tempratur fluida yang diukur.
Termometerlainya yang memanfaatkan karakteristik hubungan antara tegangan dan tempratur. Termokopel tersusun dari dua buah logam berbeda dengan titik pembacaan pada pertemuan kedua logan dan titik lain sebagai outputnya. Termokopel sederhana dapat dipasang, dan memiliki konduktor standar yang sama, serta dapat mengukur tempratur dalam jangkauan antara -2000C sampai 18000C dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1000C termokopel kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil.



3.     ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

-        ALAT YANG DIGUNAKAN
·         Satu set Temprature Measurment Bench
·         Termometer tekanan uap
·         Thermometer air raksa
·         Ketel
·         Botol aquadest
·         Stop watch

-        BAHAN YANG DIGUNAKAN
·         Aquadest



4.     PROSEDUR PERCOBAAN

   1.    Menyiapkan peralatan Temprature Measurment Bench.
   2.    Mengisi ketel dengan aquadest hingga 2/3 penuh, dan thermometer merkuri, tekanan uap, dan thermometer   lainnya diletakkan diatas tutup ketel.
   3.     Mencatat tempratur awal yang ditunjukkan thermometer.
   4.     Mengatur power regulator pada posisi 5 (ditengah-tengah).
   5.     Memastikan ketel telah terpasang dengan baik dan saklar telah dihidupkan.
   6.     Menghidupkan power regulator, dan mencatat perubahan suhu setiap 1 menit.
   7.     Mematikan power setelah suhu tercapai 1000C atau suhu tidak naik lagi pada thermometer raksa.
   8.     Melonggarkan tutup ketel untuk mempercepat pendinginan (ditambahkan es jika diperlukan).
   9.     Mengukur penurunan suhu setiap 3 menit. 
  10.   Menganalisa hasil percobaan.



5.     DATA PENGAMATAN

a.       Kenaikan Suhu
No
Temperatur Termometer Merkuri (oC)
Temperatur Termometer Tekanan Uap (oC)
Temperatur Logam (oC)
Platinum
Transmitor
Termokopel
1.
40
40
48,8
45,9
39,5
2.
50
47
58,4
54,7
48,6
3.
60
55
68,2
60,8
58,6
4.
70
65
78,6
66
68
5.
80
74
88
69,9
77,8
6.
90
91
99,2
73,3
89,1
7.
100
102
108,2
75,7
97,5

b.      Penurunan Suhu
No
Temperatur Termometer Merkuri (oC)
Temperatur Termometer Tekanan Uap (oC)
Temperatur Logam (oC)
Platinum
Transmitor
1.
90
88
95
72,9
2.
80
81
84,1
70,3
3.
70
70
73,9
66,6
4.
60
60
63,6
61,3
5.
50
51
47,3
58,2
6.
40
40
45,3
45,4


6.     ANALISA PERCOBAAN

Pada praktikum kali ini yaitu pengukuran temperature dengan menganalisis berbagai macam thermometer. Thermometer yang digunakan antara lain yaitu thermometer Hg, termokopel, termistor, thermometer platinum dan thermometer tekanan uap. Thermometer pengukuran temperature diletakkan dimasing – masing lubang dibagian tutup ketel yang berisi air, didalam lubang yang tidak terpakai ditutup dengan tisu dan isolative agar uap dari air didalam ketel tidak keluar dan temperature tepat.
Setelah dilakukan pengamtan, didapatkan bahwa suhu yang ditunjukkan oleh thermometer hg mempunyai hasil yang linier, sehingga dijadikan sumbu x dan sumbu y. sedangkan duhu yang dicatat adalah pada platinum, transmitor, dan termokopel serta thermometer tekanan uap. Namun suhu yang ditunjukkan tidak terlalu sama pada thermometer air raksa. Selain itu kesalahan yang dapat terjadi adalah pada saat pembacaan thermometer air raksa karena menggunakan skala 2. Jadi thermometer platina, termistor, termokopel, dan tekanan uap dapat digunakan untuk mengukur suhu namun kurang akurat.



7.     KESIMPULAN

Dari percobaan didapatkan :
     1.    Thermometer tekanan uap, platina, termokopel, transmitor, dapat digunakan sebagai pengukur suhu               namun hasil yang didapatkan kurang akurat.
     2.    Proses kenaikan suhu lebih cepat dibandingkan penurunan suhu.
     3.    Pada kenaikan suhu temperature  paling tinggi dihasilkan oleh thermometer logam.


8.     DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet.2013. Penuntun Praktikum Instrumentasi dan Teknik Pengukuran.POLSRI : Palembang.






NB:
Boleh dicopy dan dijadikan laporan praktikum Anda, tapi ingat! Budayakan untuk tidak mencontek secara keseluruhan :)


Gambar Alat :





Posted by Unknown
Berlangganan Artikel dari Kami via Email
Powered by Blogger.